Museum Kalimantan Barat atau dikenal juga sebagai Museum Negeri Pontianak.

Museum Negeri Pontianak berlokasi di Kota Pontianak, Ibu Kota Provinsi Kalimantan Barat, tepatnya di Jl. Jendral Ahmad Yani, Pontianak. Dibangun pada tahun 1975 dan menyimpan benda-benda bernilai historis dari Kalimantan Barat.

Pulau Randayan, salah satu objek wisata di Kalimantan Barat, berada 32 Km dari Kota Singkawang.

Pulau Randayan merupakan salah satu pulau eksotis di Kalimantan Barat, pulau yang memiliki pantai dengan pasir putih dan pemandangan bawah laut yang indah ini sangat cocok untuk olahraga menyelam.

Kuliner khas Kalimantan Barat yaitu Chai Kue atau dikenal juga dengan sebutan Choi Pan.

Chai kue (choi pan) salah satu kuliner khas Pontianak, chai kue ini umumnya dibuat dari adonan tepung beras yang dicampur sedikit sagu/tapioka, dengan isi yang bervariasi mulai dari daun kucai, keladi, hingga bengkoang.

Robo-robo, upacara tolak bala oleh masyarakat Mempawah, Kalimantan Barat.

Upacara robo-robo merupakan upacara tolak bala oleh masyarakay Mempawah, Kalimantan Barat, upacara ini digelar pada hari Rabu pekan terakhir bulan Safar, Hijriah.

Tahun Baru Imlek yang selalu dirayakan oleh masyarakat Tionghoa di Indonesia

Masyarakat Tionghoa di Indonesia setiap tahun merayakan Tahun Baru Imlek yang dimulai pada hari pertama penanggalan Tionghoa dan berakhir pada hari ke lima belas lewat perayaan Cap Go Meh.

Tampilkan postingan dengan label Wisata Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Budaya. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Februari 2016

MUSEUM KALIMANTAN BARAT

Museum Provinsi Kalimantan Barat dirintis sejak tahun 1974 oleh Kantor Wilayah Depdikbud Provinsi Kalimantan Barat melalui Proyek Rehabilitasi dan Perluasan Permuseuman Kalimantan Barat. Fungsionalisasinya diresmikan pada tanggal 4 Oktober 1983 oleh Direktur Jenderal Kebudayaan Depdikbud, sejak itu Museum Provinsi Kalimantan Barat dibuka untuk umum. Ada empat seksi yang bekerja di museum ini, yaitu seksi edukasi , kelembagaan, koleksi ,peralatan. Museum biasanya mengadakan pameran lukisan yang di tampilkan di selasar museum. Biasanya juga mengadakan lomba cerdas cermat setiap tahun , melukis dan lomba mading. Adapun usaha yang dilakukan supaya masyarakat terutama anak sekolah mengetahui bahwa pentingnya budaya, maka museum mengadakan kegiatan sosialisasi. Ada juga kegiatan museum masuk sekolah.

Museum ini menyimpan di antaranya koleksi Geografika/Geologika berupa peta dan jenis batu-batuan; koleksi biologika, arkeologika, historika, numismatika, dan keramologika berupa tempayan, piring, mangkuk, sendok, dll. yang berasal dari China, Vietnam, Jepang, Eropa, dan keramik lokal Singkawang. Selain menampilkan koleksi yang ada di Ruangan Pameran Tetap I, Museum Provinsi Kalimantan Barat juga menampilkan koleksi replika dan miniatur yang berada di plaza Jangkar kapal dagang asing.

Aktivitas Museum meliputi pameran, bimbingan kepada pengunjung, karya tulis, konservasi/preparasi koleksi, survei, pengadaan koleksi, ceramah, sarasehan, sosialisasi, diskusi, penelitian, lomba lukis, cerdas cermat, dll.
Dari adat dayak yang terkesan seram, beralih ke koleksi adat melayu Pontianak. Satu kata yang terucap dari buda’-buda’ pontianak (buda’-buda': panggilan teman-teman atau sekolompok orang sebaya) yaitu ‘GLAMOUR’. Kenapa dikatakan glamour? Karena dari koleksi yang ada di museum ini kebudayaan melayu di pontianak dikaitkan dengan barang-barang mewah semacam gramofon, alat musik yang lengkap yang biasa digunakan musisi-musisi jazz serta kain-kain emas dan perhiasan yang membuat silau mata. Ditunjukkan pula betapa glamournya suatu adat pernikahan masyarakat melayu yang dilengkapi dengan ritual-ritual yang mengiringinya. Yang paling menonjol dan berkesan yakni budaya betangas yang hingga kini masih membudaya, antara lain mandi uap untuk membersihkan kotoran sebelum menikah.

Sumber : http://wisatapontianak.com/museum-negeri-sejarah-budaya-khas-pontianak-kalimantan-barat/
Foto : http://mimbaruntan.com/wp-content/uploads/2013/11/museum-kalbar-sayang-tutup.jpg

ISTANA KESULTANAN KADARIAH PONTIANAK

Setelah berwisata dengan alam  dan taman sesekali jangan lupa untuk mengenal sejarah ya. Berkunjung ke Istana Kadariyah pada sebelah petang. Istana ini merupakan peninggalan kesultanan Pontianak yang didirikan oleh Sultan Syarif Abdurrahman pada 14 Rejab 1185 H bersamaan 23 Oktober 1771M dan terletak 4 km dari pusat kota dan terletak di Kampong Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur. Istana ini masih menyimpan berbagai macam benda peninggalan seperti Singahsana, Kaca Pecah Seribu, Al-Quran tulisan tangan dan salasilah keturunan Sultan Pontianak dari sultan pertama, Sultan Sharif Abddurahman Alkadrie hingga kepada sultan kelapan, Sultan Syarif Hamid Alkadrie yang memerintah pada tahun 1945.
Pada bagian depan, tengah,  dan kiri depan istana pengunjug dapat melihat meriam kuno buatan Perancis dan Portugis. Dari sini, pegunjung juga dapat melihat anjungan, sebuah ruangan yang menjorok ke depan yang dulunya digunakan Sultan sebagai tempat peristirahatan atau untuk sekedar menikmati keindahan pemandangan Sungai Kapuas dan Sungai Landak.
Masih di ruangan ini, pengunjung juga dapat melihat  genta,  sebuah alat yang dulunya dipakai untuk penanda adanya marabahaya. Pada aula utama keraton ini juga terdapat cermin antik dari Perancis yang oleh masyarakat setempat disebut “kaca seribu”.Keraton Kadriah juga masih memiliki koleksi benda- benda bersejarah yang cukup lengkap seperti beragam perhiasan yang digunakan secara turun temurun, benda-benda kuno, barang pecah belah, foto keluarga Sultan dan arca- arca.

Kata Pontianak sendiri berasal dari nama hantu wanita dalam bahasa Melayu, yang di Jawa dikenal dengan Kuntilanak. Konon ketika tengah menyusuri sungai kapuas untuk membuka kerajaan baru, di suatu tempat yang kini bernama Batulayang, rombongan kapal kakap Syarif Abdurrahman Alkadrie diganggu hantu-hantu wanita tersebut. Sultan pun menghentikan rombongan dan memutuskan untuk bermalam di tempat itu.

Terlepas dari bagaimanapun kondisi fisik peninggalan bersejarah tersebut saat ini, berdiri kembalinya kesultanan Kadriah menyemburatkan harapan baru hati umat Islam Pontianak. Gerbong peradaban yang didirikan Syarif Abdurrahman itu akan kembali berderak, menyongsong terbitnya fajar baru kejayaan Islam, yang berbasis visi awal kesultanan Kadriah, yakni “tahta untuk dakwah.”

Sumber : http://magazine.happyholiday.travel/tempat-wisata-menarik-di-kalimantan-barat/
Foto : http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/08/1345538411674797639.jpg