Museum Kalimantan Barat atau dikenal juga sebagai Museum Negeri Pontianak.

Museum Negeri Pontianak berlokasi di Kota Pontianak, Ibu Kota Provinsi Kalimantan Barat, tepatnya di Jl. Jendral Ahmad Yani, Pontianak. Dibangun pada tahun 1975 dan menyimpan benda-benda bernilai historis dari Kalimantan Barat.

Pulau Randayan, salah satu objek wisata di Kalimantan Barat, berada 32 Km dari Kota Singkawang.

Pulau Randayan merupakan salah satu pulau eksotis di Kalimantan Barat, pulau yang memiliki pantai dengan pasir putih dan pemandangan bawah laut yang indah ini sangat cocok untuk olahraga menyelam.

Kuliner khas Kalimantan Barat yaitu Chai Kue atau dikenal juga dengan sebutan Choi Pan.

Chai kue (choi pan) salah satu kuliner khas Pontianak, chai kue ini umumnya dibuat dari adonan tepung beras yang dicampur sedikit sagu/tapioka, dengan isi yang bervariasi mulai dari daun kucai, keladi, hingga bengkoang.

Robo-robo, upacara tolak bala oleh masyarakat Mempawah, Kalimantan Barat.

Upacara robo-robo merupakan upacara tolak bala oleh masyarakay Mempawah, Kalimantan Barat, upacara ini digelar pada hari Rabu pekan terakhir bulan Safar, Hijriah.

Tahun Baru Imlek yang selalu dirayakan oleh masyarakat Tionghoa di Indonesia

Masyarakat Tionghoa di Indonesia setiap tahun merayakan Tahun Baru Imlek yang dimulai pada hari pertama penanggalan Tionghoa dan berakhir pada hari ke lima belas lewat perayaan Cap Go Meh.

Tampilkan postingan dengan label Suku Dayak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Suku Dayak. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Februari 2016

TRADISI TATO SUKU DAYAK

Melihat orang dengan tubuh bertato bagi sebagian orang merupakan sebuah hal yang tidak wajar atau tabu. Sebagian orang lagi melihat tato sebagai sebuah karya seni yang menarik. Namun bagi orang dari Suku Dayak Kalimantan, tato tidak hanya dipandang sebagai sebuah karya seni saja.

Tato bagi Suku Dayak merupakan seni gambar yang tidak terpisahkan dari tubuh mereka. Tato mempunyai filosofi dan makna yang sakral akan budaya – tradisi Suku Dayak Kalimantan. Namun tidak seluruh Suku Dayak di Kalimantan masih menerapkan tradisi seni tato tubuh ini.

Sebagai contoh, tradisi rajah tabuh ini masih melekat di masyarakat Dayak Iban di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalbar. Contoh tato Suku Dayak Iban ini seperti pada Panglima Dayak Edy Barau yang meninggal beberapa waktu lalu. Seluruh bagian tubuh beliau di penuhi dengan goresan seni tato tradisional.

Fungsi tato pada zaman sekarang memang sudah berubah. Dahulu tato tidak dibuat secara sembarangan hanya dibuat pada kaum lelaki yang sudah melakukan banyak perjalanan, berjasa, dan banyaknya memenggal kepala musuh saat berperang (Ngayau). Sekarang tato dibuat secara bebas baik di tubuh lelaki maupun perempuan.

Setiap motif tato memiliki arti yang berbeda dan peletakannya juga tidak boleh dilakukan sembarangan.
Ketika pembuatan tato para keluarga biasanya dilarang keluar rumah agar tidak terjadi sesuatu yang buruk menimpa pemilik tato. Menurut kepercayaan tato berwarna hitam akan berubah menjadi warna emas dan menjadi penerang jalan menuju keabadian setelah mereka mati.

Bentuk dan gambar tato pada Suku Dayak umumnya merupakan perwujudan benda-benda alam seperti burung enggang yang mewakili dunia atas, katak yang mewakili dunia bawah, serta beberapa motif seperti motif bunga terong, cabang pohon dan berbagai bentuk-bentuk lain yang di ambil dari alam. Selain itu dikenal juga tutang bajai (tato buaya), gambar naga, saluang murik, api, palapas langau (sayap lalat), manuk tutang usuk, matan punei (mata burung punei), manuk tutang penang, lampinak (seperi salib), tutang tasak bajai dinding.

Peletakan tato pada tubuh juga mempunyai makna yang berbeda. Seperti pada tato yang terdapat di jari-jemari tangan menunjukkan bahwa si pemilik adalah orang yang banyak berjasa dalam tolong-menolong. Tato Bunga Terung atau bunga terong dengan gambar tali nyawa dibagian tengah merupakan penanda bahwa seorang lelaki dari suku dayak telah memasuki masa usia dewasa. Tato motif muka harimau di bagian paha menunjukkan status sosial yang tinggi bagi pemiliknya. Sedangkan tato bermotif ukir rekong yang terletak di leher berfungsi untuk memberikan kekuatan pada tenggorokan atau berfungsi sebagai pelindung agar tidak di penggal oleh Mandau musuh.

Cara pembutan tato Suku Dayak masih sangat tradisional, menggunakan bahan-bahan alam dan alat manual buatan tangan. Tintan pembuatan tato menggunakan jelaga yang berwarna hitam peka. Sale damardigunakan untuk membaluri luka bekas jarum.

Pembuatan tato tradisional ini tidak kalah menyakitkan dari tato menggunakan mesin. Bagaimana tidak, proses tato tradisional Suku Dayak ini mencacah kulit dengan mata tutang (jarum) dengan cara dipukul-pukul dengan menggunakan kayu ulin bulat sebesar jari sampai mengeluarkan darah.

Luka inilah yang akan menjadi tato setelah dibalurkan sale damar. Selain sale damar terkadang juga dicampur dengan emas atau tembaga. Luka tato akan sembuh sekitar seminggu hingga satu bulan lamanya. Untuk membuat tato di sekujur tubuh biasanya dibutuhkan waktu hingga dua tahun, ini disebabkan karena mempertimbangkan rasa sakit yang timbul ketika saat proses tato sedang berlangsung.

Sumber : http://kabarkalbar.com/kesenian-dan-budaya-tato-suku-dayak/
Foto:http://4.bp.blogspot.com/CqIpG5L8vGI/TwJ9_NkyYXI/AAAAAAAAB3A/RzCa2DC6bcQ/s1600/2011-2012_566.jpg

TRADISI MANGKOK MERAH

Mangkok merah merupakan media persatuan Suku Dayak. Mangkok merah beredar jika orang Dayak merasa kedaulatan mereka dalam bahaya besar. “Panglima” atau sering suku Dayak sebut Pangkalima biasanya mengeluarkan isyarat siaga atau perang berupa mangkok merah yang di edarkan dari kampung ke kampung secara cepat sekali. Dari penampilan sehari-hari banyak orang tidak tahu siapa panglima Dayak itu. Orangnya biasa-biasa saja, hanya saja ia mempunyai kekuatan supranatural yang luar biasa. Percaya atau tidak panglima itu mempunyai ilmu bisa terbang kebal dari apa saja seperti peluru, senjata tajam dan sebagainya.

Mangkok merah tidak sembarangan diedarkan. Sebelum diedarkan sang panglima harus membuat acara adat untuk mengetahui kapan waktu yang tepat untuk memulai perang. Dalam acara adat itu roh para leluhur akan merasuki dalam tubuh pangkalima lalu jika pangkalima tersebut ber “Tariu” ( memanggil roh leluhur untuk untuk meminta bantuan dan menyatakan perang ) maka orang-orang Dayak yang mendengarnya juga akan mempunyai kekuatan seperti panglimanya. Biasanya orang yang jiwanya labil bisa sakit atau gila bila mendengar tariu.

Orang-orang yang sudah dirasuki roh para leluhur akan menjadi manusia dan bukan. Sehingga biasanya darah, hati korban yang dibunuh akan dimakan. Jika tidak dalam suasana perang tidak pernah orang Dayak makan manusia. Kepala dipenggal, dikuliti dan di simpan untuk keperluan upacara adat. Meminum darah dan memakan hati itu, maka kekuatan magis akan bertambah. Makin banyak musuh dibunuh maka orang tersebut makin sakti.

Mangkok merah terbuat dari teras bambu (ada yang mengatakan terbuat dari tanah liat) yang didesain dalam bentuk bundar segera dibuat. Untuk menyertai mangkok ini disediakan juga perlengkapan lainnya seperti ubi jerangau merah (acorus calamus) yang melambangkan keberanian (ada yang mengatakan bisa diganti dengan beras kuning), bulu ayam merah untuk terbang, lampu obor dari bambu untuk suluh (ada yang mengatakan bisa diganti dengan sebatang korek api), daun rumbia (metroxylon sagus) untuk tempat berteduh dan tali simpul dari kulit kepuak sebagai lambang persatuan. Perlengkapan tadi dikemas dalam mangkok dari bambu itu dan dibungkus dengan kain merah.

Menurut cerita turun-temurun mangkok merah pertama beredar ketika perang melawan Jepang dulu. Lalu terjadi lagi ketika pengusiran orang Tionghoa dari daerah-daerah Dayak pada tahun 1967. pengusiran Dayak terhadap orang Tionghoa bukannya perang antar etnis tetapi lebih banyak muatan politisnya. Sebab saat itu Indonesia sedang konfrontasi dengan Malaysia.

Menurut kepercayaan Dayak, terutama yang dipedalaman Kalimantan yang disampaikan dari mulut ke mulut, dari nenek kepada bapak, dari bapak kepada anak, hingga saat ini yang tidak tertulis mengakibatkan menjadi lebih atau kurang dari yang sebenar-benarnya, bahwa asal-usul nenek moyang suku Dayak itu diturunkan dari langit yang ke tujuh ke dunia ini dengan “Palangka Bulau” ( Palangka artinya suci, bersih, merupakan ancak, sebagai tandu yang suci, gandar yang suci dari emas diturunkan dari langit, sering juga disebutkan “Ancak atau Kalangkang” ).

PROSES PENGUBURAN SUKU DAYAK MAANYAN

Sumber : https://imanuelpn.wordpress.com/tradisi-kebiasaan-suku-dayak/
Foto ; https://roythaniago.files.wordpress.com/2011/02/upcr-nyangahatn-manta31.jpg